Pages

Rabu, 15 Mei 2013

makalah Psikologi Individual




MAKALAH PSIKOLOGI INDIVIDUAL

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teori-Teori Konseling II
Dosen Pengampu : Hastin Budiswi, S.Psi
Disusun oleh Semester/Kelas : 3C

                          1. Solihin                                     1111500147
                                 2. Ananto Dwi L                        1110500005
                                 3. Umihani                                  1110500
                                 4. Siti Nurrohmi                         1110500
                                 5. Isti Amalia                              1110500
                                 6. Asih Susanti                           1110500
                                

BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
Jl. Halmahera KM. 1 Kota Tegal – Telp/Fax (0283) 351082
2012
KATA PENGANTAR


            Puji syukur kehadirat Allah SWT  atas perkenaan-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Psikologi Individual”. Makalah ini disusun dan dikembangkan berdasarkan pada beberapa sumber yang kami peroleh, baik melalui buku maupun dari internet.
            Makalah ini disusun secara khusus untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Teori-Teori Konseling II. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Hastin Budiswi, S.Psi selaku dosen pengampu.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis maupun bagi orang lain yang membacanya. Selain itu kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu lancarnya pembuatan makalah ini. Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga  makalah ini dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.


                                                                                                                           Tegal,  Oktober 2012

                                                                                                          Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... i
DAFTAR ISI .............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................. 4
B. Rumusan Masalah........................................................................................ 5
C. Tujuan ......................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar............................................................................................... 6
B. Teori-Teori Adler ........................................................................................ 8
C. Tujuan Konseling ...................................................................................... 10
D. Proses Konseling........................................................................................ 11
E. Teknik-Teknik Konseling........................................................................... 12
F. Hubungan Konselor dan Klien................................................................... 13
G. Kritik dan Kontribusi................................................................................. 14
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 18


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Alfred Adler pada mulanya adalah seorang anggota psikoanalisis tetapi lalu memisahkan diri dari freud, karena tidak setuju dengan konsep-konsep psikoanalisis. Adler membentuk aliran baru dinamakan Individual Psycology. Adler tidak setuju dengan konsep dorongan seks sebagai satu-satunya dorongan yang utama dalam kehidupan manusia, juga dengan konsep kejiwaan yang dibagi-bagi menjadi id, ego dan superego.
Psikologi individual dikembangkan oleh Alfred Adler, sebagai suatu sistem yang komparatif dalam memahami individu dan dalam kaitannya dengan lingkungan sosial. Individual psychology atau psikologi individual dikembangkan oleh Alfred Adler dan pengikutnya antara lain adalah Rudolph Drekurs, Martin Son Tesgard, dan Donal Dinkmeyer.
Alfred Adler selain siswa juga rekan kerja Freud dan berumur empat belas tahun lebih muda dari Freud. Adler  telah menjadi dokter praktek. Ketika bergabung dengan Freud dan ahli lain ketika dibentuknya Masyarakat Psychoanalytic Vienna. Adler keluar dari paham Freud dan Masyarakat Psychoanalytic Vienna dan pada tahun 1911 Adler mulai mengembangkan pemikirannya yang dikenal sebagai Psikologi Individu.
Aliran Psikologi Individual dikenal dengan nama Adlerian Counseling. Adler mengatakan bahwa seorang tidaklah dikendalikan semata-mata untuk memenuhi kesenangannya sendiri tetapi sebaliknya, seseorang dimotivasi oleh rasa tanggung jawab sosial dan kebutuhan untuk berhasil. Adler benar-benar berbicara tentang hubungan sosial, yang mana Individu sibuk mengejar realisasi diri yang dapat mendukung dirinya untuk membuat dunia lebih baik dalam menempatkan hidup. Inilah yang menjadi dasar pemikiran dari teori psikologi individual.
Menurut Adler manusia tidak dapat dibagi-bagi menjadi bagian-bagian, manusia sebagai suatu keseluruhan dan sebagai suatu kesatuan yang unik. Adler mengemukakan bahwa motif utama yang merupakan dorongan hidup adalah superioritas dan kekuatan. Adler melihat bahwa kejantanan (masculin) adalah identik dengan superioritas(keunggulan), sedang kewanitaan (feminin) adalah inferioritas. Sesuai dengan dorongannya untuk hidup maka baik pria maupun wanita setuju superioritas. Alasan utamanya karena manusia pada saat dilahirkan dalam keadaan inferioritas, dalam keadaan lemah, perlu bantuan orang lain, dan hidupnya tergantung pada orang sekitarnya. Adler melihat manusia dalam keadaan inferior ini melihat orang dewasa yang kuat dan  serba lebih menyebabkan inferior yang laten. Adler juga melihat adanya pengaruh situasi keluarga terhadap perkembangan pribadi seorang anak, antara lain urutan dalam kelahiran, anak tunggal, anak bungsu mempunyai kepribadian yang khas. Demikian pula iklim keluarga mempengaruhi kepribadian seseorang. Pada usia sangat dini (4 dan 5 tahun) menurut adler anak sudah membentuk pedoman untuk hidup (life style) yang relative tetap.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja teori dan teknik  yang terapkan adler dalam psikologi individual?
2.      Apa tujuan dari konseling psikologi individual?
3.      Bagaimanakah proses konseling individual beserta kelemahan dan kelebihan?

C.    Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam mempelajari konseling psikologi individual ini adalah agar seorang konselor dapat mengetahui model-model konseling dan bagaimana menerapkan berbagai teori dalam proses konseling.

BAB II
PEMBAHASAN

A.   Konsep Dasar
Konstruk utama psikologi individual adalah bahwa perilaku manusia dipandang sebagai suatu kompensasi terhadap perasaan inferioritas(rendah diri kurang). Perasaan lemah dan tidak berdaya timbul dan berkembang karena pengalaman hidup anak bersama orang dewasa atau pandangan kekurangan dalam organ tubuh, adler mempercayai prinsip fundamental motivasi dengan kompensasi terhadap perasaan rendah diri, dapat menjelaskan hampir seluruh perilaku manusia. Manusia dikuasai oleh perasaan banyak kekurangan dan tidak sempurna dan oleh karena itu mereka mereaksi terhadap perasaan tidak senang itu dengan mencari kesempurnaan,kebebasan dan keunggulan. Istilah yg digunakan Adler adalah “inferiority Complex” untuk menggambarkan keadaan perasaan harga diri kurang yang senantiasa mendorong individu untuk kompensasi mencapai keunggulan. Perilaku merupakan suatu upaya untuk mencapai keseimbangan.
Complex rasa rendah diri menurut adler berasal dari 3 sumber yaitu :
1.      Kekurangan dalam organ fisik
2.      Anak yang dimanja
3.      Anak yang mendapat penolakan    
Kadang-kadang rasa rendah diri ini dapat menimbulkan kompensasi yang berlebih-lebihan sehingga menimbulkan berbagai hambatan bagi individu itu sendiri.
Hal lain yang penting dalam konstruk psikologi individual adalah konsepsi perilaku situasional social. Individu merupakan suatu organisasi holistic, sebagai suatu kesatuan antara kesadaran dan ketidaksadaran, tidak ada reduksi komponen, tidak ada unsure-unsure kepribadian seperti id,ego dan super ego. Manusia pada dasarnya bersifat social dan berusaha mencari tempat dalam masyarakat dan berusaha untuk membangun suatu kesatuan pribadi.
Adler mengatakan bahwa manusia pertama-tama dimotivasi oleh dorongan-dorongan sosial. Menurut Adler manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Mereka menghubungkan dirinya dengan orang lain, ikut dalam kegiatan-kegiatan kerja sama sosial, menempatkan kesejahteraan sosial diatas kepentingan diri sendiri dan mengembangkan gaya hidup yang mengutamakan orientasi sosial.
Untuk memenuhi kebutuhan sosial manusia rela terjun dalam berbagai kegiatan-kegiatan sosial seperti organisasi sosial dan mengahabiskan hampir seluruh hidupnya di sana. Mereka merasa puas dengan melakukan aktivitas sosial seperti membantu korban bencana, korban perang, kelaparan dan lain sebagainya. Itulah kebutuhan sosial yang dimaksud oleh Adler. Kebutuhan-kebutuhan sosial ini merupakan bawaan sejak lahir, perkembangan diri individu sejak masa kanak-kanak akan sangat menentukan cara individu berperan dalam lingkungan sosialnya.
Konstruk utama adler yang lainnya adalah pandangan tentang kesatuan organisme yang berorientasi tujuan. Dorongan superioritas diarahkan oleh tujuan individu yang unik. Factor biologis dan lingkungan  mempengaruhi tujuan individu akan tetapi perwujudannya terutama dikreasikan oleh individu. Secara social individu terdorong untuk bergerak dari keadaan yang dipandang sebagai yang inferioritas kearah keadaan yang dipandang sebagai superioritas. Meskipun dipengaruhi oleh sikap orang tua, kondisi struktur keluarga, akan tetapi pada dasarnya setiap individu memiliki diri yang keatif dan bertanggung jawab untuk memilih pikiran tindakan dan perasaan sendiri.
Konsep lain yang dikemukakan oleh adler adalah pandangan bahwa individu sebagai suatu organisasi diri yang konsisten (self consistent organization). Seluruh kekuatan psikis dikendalikan oleh ide yang direktif dan ekspresi perasaan, pikiran, kemauan, tindakan dan sebagainya dipadukan dalam suatu rencana hidup. Pembentukan rencana hidup ini akan membentuk gaya hidup (life syile) yang akan berkembang sebagai pola-pola dalam mengarahkan perilakunya. Adler juga mengatakan pentingnya kreativitas manusia, ditegaskan bahwa tidak mungkin ada Life Style yang sama antara 2 orang, karena setiap orang dalam mengembangkan kreatifitas tergantung pada self masing-masing. Adler menekankan adanya keunikan individu, setiap orang mempunyai gambaran motivasi unik, ciri-ciri, minat, nilai-nilai semuanya merupakan cirri dare perbedaan style  of life.
Hal penting lainya adalah konsep minat kemasyarakatan (community interest) sebagai bagian dari kualitas manusiawi. Minat social ini mendorong individu untuk mencapai superioritas dalam kehidupan social. Kecemasan timbul disebabkan oleh konsentrasi dalam mencapai superioritas pribadi tanpa mempertimbangkan kebutuhan orang lain.
B.   Teori-Teori Adler
Teori Adler meliputi uraian tentang :
1.      Fictional Finalism
Yang dimaksud adalah bukan tingkah masa lampau yang menentukan tingkah laku sekarang, tetapi ide-ide (tujuan akhir) itu memberikan arah kepada seseorang individu untuk berbuat sesuatu.
2.      Striving For Superiority
Bahwa mula-mula adler menyatakan agresi lebih penting dan seksualitas, kemudian dorongan agresi ini diubah menjadi keinginan untuk berkuasa. Keinginan untuk berkuasa ini diberi istilah striving for superiority. Ada 3 tahapan sebagai tujuan akhir manusia yaitu: agresif, menjadi kuat dan menjadi superior. Striving for superioritymengejar kesempurnaan yang menyenangkan. Untuk mengetahui bagaimana munculnya striving for superiority kita harus menelaah perasaan rendah diri dan kompensasi.
3.      Inferiority Feeling dan Compensasion
Yaitu perasaan rendah diri dan kompensasi. Adler berpendapat bahwa seseorang yang sakit, paru-paru atau jantung, dan lain-lain, ini menunjukan adanya rasa rendah diri yang dasar. Biasanya adanya rendah diri dalam organ tertentu diadakan kompensasi dengan latihan yang sangat intensif. Rendah diri ini disebut kelemahan, dan kelemahan ini sama dengan feminism (kewanitaan), sehingga kompensasinya adalah the masculine protest. Perasaan rendah diri timbul sebagai akibat perasaan tidak sempurna, tidak menyenangkan dalam bagian kehidupan manusia, misalnya sewaktu masih bayi tidak mendapat kasih saying diterlantarkan.
4.      Sosial Interest
Konsep manusia terhadap minat social. Minat social meliputi kooperasi, hubungan antar personal, dan sebagainya. Adler percaya bahwa minat social adalah merupakan hakekat manusia, merupakan cirri-ciri yang dibawa sejak lahir. Minat social adalah cirri khas manusia bukan karena kebiasaan, meskipun demikian minat social tidak spontan tetapi memerlukan bimbingan dan latihan.  
5.      Style of Life
Hal ini merupakan cirri khas teori adler. Ini merupakan prinsip yang menjelmakan keunikan seseorang, tiap orang mempunyai style of life tetapi tidak ada 2 orang yang sama style of life nya. Setiap orang mempunyai tujuan yang sama, yakni superioritas, tetapi untuk mengarah kepada tujuan tersebut setiap orang mempunyai cara-cara untuk menempuhnya sendiri. Style of life terbentuk sejak usia yang sangat muda (4-5 tahun).
6.      The Creative Self
Menerangkan bahwa manusia membentuk kepribadian sendiri, mereka membentuk kepribadian sendiri, mereka membentuk kepribadian dari bahan mentah pembawaan dan pengalaman. Creative self adalah prinsip aktif dalam kehidupan manusia, buakan konsep tentang jiwa.

C.   Tujuan Konseling
Tujuan konseling menurut Adler adalah mengurangi intensitas perasaan rasa rendah diri (inferior), memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam persepsi, mengubah tujuan hidup, mengembangkan kasih sayang terhadap orang lain, dan meningkatkan aktivitas. Klien harus mendapat insight tentang kesalahan style of life mereka, menghadapi mekanisme superioritas mereka dan memperbaiki minat.
1.      Mengubah gaya hidup yang salah . Dalam hal ini konselor lebih fokus pada aspek kognitif. Konselor cenderung mencari kesalahan berpikir dan memberikan penilaian pada hal-hal seperti sikap tidak mempercayai, egois, ambisi yang tidak masuk akal.
2.      Mengurangi intensitas inferior klien. Sasaran dari konselor salah satunya mengurangi rasa rendah diri klien yaitu dengan cara memberi dukungan pada klien bahwa ia mempunyai kemampuan sehingga jika rasa rendah dirinya berkurang atau hilang klien mampu mencapai kebahagiaan hidup dan mampu menjalani interaksi sosial dengan baik.
3.      Meningkatkan minat sosial klien. Artinya menumbuhkan kesadaran di dalam individu akan kedudukannya sebagai salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat serta suatu sikap seseorang menangani dunia sosial untuk mencapai masa depan yang lebih baik.
4.      Mengkonfrontir mekanisme superioritas. Konfrontasi adalah respon konselor yang menggambarkan adanya ketidaksesuaian atau pertentangan yang terkandung dalam pernyataan yang diungkapkan klien. Konselor harus mampu menolong klien dengan cara memberikan pemahaman atau mengevaluasi dampak yang dihasilkan pada orang lain dan merenungkan akibat yang dia tanggung karena menjadikan superioritas sebagai prioritas utama.

D.   Proses Konseling
Strategi konseling biasanya melibatkan pola hidup sekarang yang Nampak dan menelusuri ke belakang hingga konselor dan klien memperoleh kejelasan mengenai tujuan superioritasnya. Menurut Ansbacher&Anbacher (shertzer&stone,1980,204) ada 3 komponen pokok dalam proses konseling. Ketiga komponen tersebut adalah :
1.      Memperoleh pemahaman gaya hidup klien yang spesifik, gejala dan masalahnya, melalui empati, intuisi, dan penaksiran konselor. Dalam unsure ini konselor membentuk hipotesis mengenai gaya hidup dan situasi klien
2.      Proses menjelaskan kepada klien, dalam komponen ini hipotesis gaya hidup yang dikembangkan dalam komponen pertama, harus ditafsirkan dan dikomunikasikan kepada klien sehingga dapat diterima. Psikologi individual menekankan pentingnya membantu klien untuk memperoleh tilikan terhadap kondisinya. Penjelasan konselor hendaknya sederhana dan terarah sehingga jelas bagi klien dan cocok dengan pengalamannya sendiri.
3.      Proses memperkuat minat social, klien dengan menghadapkan mereka, secara seimbang, dan menunjukan minat dan kepedulian mereka.
Pendekatan adler dalam proses konseling berdasarkan pada asumsi bahwa klien telah membuat kesalahan gaya hidup dan konsepsi mereka tentang kenyatan. Konselor hendaknya membantu mereka untuk mencapai pandangan terhadap kenyataan  yang lebih baik dan benar.

E.   Teknik-Teknik Konseling
Teknik konseling yang digunakan oleh konselor penganut adler :
1.      Teknik Komparatif
Dalam teknik ini konselor melakukan perbandingan dirinya dengan konselor, dengan empati konselor dengan mencoba membayangkan gaya hidup dan masalah klien dalam dirinya. 
2.      Teknik Analisis Mimpi
Menurut adler mimpi adalah merupakan refleksi gambaran tujuan hidup klien. Dengan menganalis mimpi yang dialami klien, maka konselor dapat memperkirakan tujuan hidup klien, atas dasar itu kemudian konselor membantu klien.




F.    Hubungan Konselor dengan Klien
Aliran Adler menganggap hubungan baik antara klien dan terapis itu adalah keduannya berkedudukan sederajat didasari pada kerjasama, saling percaya, saling menghormati, saling menjaga rahasia dan keselarasan sasaran. Awal mula kegiatan konseling, seyogyanya klien mulai memformulasikan rencana atau kontrak. Klien tidak dipandang sebagai penerima yang pasif melainkan klien adalah anggota dari kelompok yang aktif dalam hubungannya dengan kelompok lain yang sederajat dimana tidak ada pihak yang berkedudukan lebih tinggi dan ada yang berkedudukan lebih rendah.melalui perserikatan yang sifatnya saling mengisi atau kolaboratif klien mengakui bahwa mereka bisa mempertanggungjawabkan perilaku mereka.
Hubungan pertolongan meliputi :
1.      Membentuk dan memelihara hubungan yang baik dengan klien
2.      Mengumpulkan data mengenai klien, agar mengetahui konsep style of life klien. Data tersebut yang berhubungan dengan pembentukan style of life pada usia muda, situasi keluarga, dan bagaimana klien mengekspresikan pengalaman-pengalaman tersebut sekarang bagaimana hubungan kaka/adik kandung, demikian juga tentang mimpi-mimpinya.
3.      Interpretasi pengertian tentang life style klien diberitahukan kepada klien. Konselor mendengarkan reaksi klien.
4.      Rekonstruksi aktif, konselor mengarahkan klien secara aktif terhadap alternative-alternatif pemecahan mengenai masalah dirinya dan lingkungannya. Penyembuhan disebabkan oleh gambaran yang matang tentang dunianya.
5.      Dalam hubungan yang face to face relation dialog diusahakan suatu redukasi (pendidikan kembali) proses sosialisasi seorang individu dan memperbaiki kepercayaan klien terhadap dirinya sendiri.

G.  Kritik dan Kontribusi
Beberapa kritik yang disampaikan kepada psikologi individual antara lain :
1.      Terlalu banyak menekankan pada tilikan intelektual dalam upaya perubahan
2.      Penekanan yang berlebihan pada pengalaman, nilai, minat subyektif pada penentu perilaku
3.      Meminimalkan factor biologis dan riwayat masa lalu
4.      Terlalu banyak menekankan tanggung jawab pada keterampilan diagnosis konselor.
Sementara itu kontribusi psikologi individual antara lain :
1.      Keyakinan yang optimis bahwa setiap orang dapat berubah, dapat mencapai sesuatu, arah evaluasi manusia bersifat positif
2.      Penekanan hubungan konseling sebagai suatu media untuk mengubah klien
3.      Menekankan bahwa masyarakat tidak sakit atau salah, akan tetapi manusianya yang sakit atau salah
4.      Menekankan bahwa kekuatan sebagai pusat pendorong perilaku


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Konstruk utama psikologi individual adalah bahwa perilaku manusia dipandang sebagai suatu kompensasi terhadap perasaan inferioritas(rendah diri kurang). Hal lain yang penting dalam konstruk psikologi individual adalah konsepsi perilaku situasional social. Konstruk utama adler yang lainnya adalah pandangan tentang kesatuan organism yang berorientasi tujuan. Konsep lain yang dikemukakan oleh adler adalah pandangan bahwa individu sebagai suatu organisasi diri yang konsisten (self consistent organization). Hal penting lainya adalah konsep minat kemasyarakatan (community interest) sebagai bagian dari kualitas manusiawi.
Adapun teori-teori Adler yang terapkan yaitu fictional finalism, striving for superiority, inferiority feeling dan compensasion, social interest, style of life, the creative self.
Tujuan konseling menurut Adler adalah mengurangi intensitas perasaan rasa rendah diri (inferior), memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam persepsi, mengubah tujuan hidup, mengembangkan kasih sayang terhadap orang lain, dan meningkatkan aktivitas. Klien harus mendapat insight tentang kesalahan style of life mereka, menghadapi mekanisme superioritas mereka dan memperbaiki minat.


Menurut Ansbacher&Anbacher (shertzer&stone,1980,204) ada 3 komponen pokok dalam proses konseling. Ketiga komponen tersebut adalah :
1.Memperoleh pemahaman gaya hidup klien yang spesifik, gejala dan masalahnya, melalui empati, intuisi, dan penaksiran konselor, 2. Proses menjelaskan kepada klien, 3. Proses memperkuat minat social,
Teknik konseling yang digunakan oleh konselor penganut adler : Teknik Komparatif,Teknik Analisis Mimpi.
Hubungan pertolongan meliputi :
1.      Membentuk dan memelihara hubungan yang baik dengan klien
2.      Mengumpulkan data mengenai klien, agar mengetahui konsep style of life klien
3.      Rekonstruksi aktif, konselor mengarahkan klien secara aktif terhadap alternative-alternatif pemecahan mengenai masalah dirinya dan lingkungannya..
4.      Dalam hubungan yang face to face relation dialog diusahakan suatu redukasi (pendidikan kembali) proses sosialisasi seorang individu dan memperbaiki kepercayaan klien terhadap dirinya sendiri.
Beberapa kritik yang disampaikan kepada psikologi individual antara lain :
1.      Terlalu banyak menekankan pada tilikan intelektual dalam upaya perubahan
2.      Penekanan yang berlebihan pada pengalaman, nilai, minat subyektif pada penentu perilaku
3.      Meminimalkan factor biologis dan riwayat masa lalu
4.      Terlalu banyak menekankan tanggung jawab pada keterampilan diagnosis konselor.


Sementara itu kontribusi psikologi individual antara lain :
1.      Keyakinan yang optimis bahwa setiap orang dapat berubah, dapat mencapai sesuatu, arah evaluasi manusia bersifat positif
2.      Penekanan hubungan konseling sebagai suatu media untuk mengubah klien
3.      Menekankan bahwa masyarakat tidak sakit atau salah, akan tetapi manusianya yang sakit atau salah
4.      Menekankan bahwa kekuatan sebagai pusat pendorong perilaku


DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 1990. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. California: CPC Pacific Grve.
Pujosuwarno, sayekti. 1993. Berbagai Pendekatan Dalam Konseling. Yogyakarta : Menara Mas Offset
Masrun. (1977) Aliran-aliran Psikologi. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
   http://ebekunt.wordpress.com/2010/01/29/psikologi-individual-2/ tanggal download 21 Sep 2012  pukul :13.00 WIB


2 komentar:

Sponsors